“…bersama sahabat mencari damai…mengasah pribadi mengukir cinta…”
Perenungan atas setiap kejadian perlu dilakukan agar kita dapat memperoleh nilai berarti dari kejadian-kejadian tersebut. Sepenggal lirik lagu Mahameru (Dewa 19) di atas mengingatkan kita akan kenangan indah dalam suatu pendakian. Tidak hanya kenangan…banyak sekali manfaat dan pelajaran yang kita dapatkan, yang sangat layak diinterpretasikan dalam kehidupan pribadi dan bersosial.
Tulisan ini saya dedikasikan untuk seluruh anggota pecinta Alam ARGA ZARKA,…tentang pelajaran hidup dari sebuah pendakian…
Goal Setting
Tidak banyak yang memahami pentingnya goal setting. Menentukan gunung yang akan kita daki merupakan pelajaran pertama dan utama dalam sebuah pendakian. Seperti juga dalam kehidupan…orang yang hidup tanpa tujuan atau cita-cita hanya akan menjalani hidup ‘ala kadarnya. Berbeda ketika kita memiliki tujuan dan cita-cita yang jelas, maka kita akan mempersiapkan segala daya dan upaya (harta, pikiran, dan tenaga) secara tepat sasaran guna meraih cita-cita tersebut. Sungguh disayangkan…bahkan sampai memilih jurusan dan fakultas-pun ada yang hanya ngikut teman atau karena keinginan orang tua, atau rela hanya masuk pilihan 2 atau 3 asal masuk universitas favorit. Sudah banyak cerita tentang orang yang menjalani hidup tanpa tujuan yang jelas…hingga pada suatu titik yang sudah cukup terlambat, dia tersadar telah tersesat.
“Loh..kok kita ada di puncak Gede??…seharusnya kan kita ke Pangrango…!??” …bayangkan waktu dan tenaga yang telah terbuang sia-sia hanya untuk mencapai tempat yang salah.
Demikian halnya dalam materi falsafah Pendidikan Dasar, Rekan rekan Panitia memberikan sesi berpikir mengenai goal apa bagi teman-teman calon Anggota (semoga masih tersimpan dan dapat di revisi)…tentang apa yang dapat teman-teman berikan ke AZKA, yang pada akhirnya secara otomatis berbanding lurus dengan apa yang akan teman-teman terima.
Sekarang silahkan teman-teman bertanya pada diri masing-masing…maukah kita hidup tanpa ada sesuatu berharga yang kita berikan atau tinggalkan ke AZKA atau orang lain? Kemudian kita akan pergi dan tidak ada yang bisa orang kenang dari kita??
Karena kepuasan tertinggi sepatutnya dilandasi oleh aktualisasi diri (teori Maslow), yang termasuk di dalamnya adalah kontribusi.
Saran saya…kaji ulang tujuan hidup teman-teman. Bila perlu seting ulang sebelum banyak hal yang menjadi terlalu terlambat dan sia-sia. Bila terlanjur…mulailah mencintai pilihan-pilihan tersebut. Karena hidup adalah pilihan…maka jangan asal pilih, namun pilihlah yang terbaik bagi kita dan orang lain.
Managerial
Tampaknya sudah jelas tentang manajemen perjalanan, silahkan bertanya pada instruktur yang lain.
Leadership
Jika ingin mengetahui sifat asli atau kapasitas seseorang, lihatlah ketika sedang under presure. Keadaan tersebut dalam pendakian seperti kelelahan fisik dan mental, maka sifat dasar seseorang akan muncul di sana seperti temperamental, ingin mendominasi, tidak mau mengalah, dan sebagainya yang seringkali menimbulkan friksi. Disinilah pelajaran berharga tentang hubungan interpersonal dan kepemimpinan (termasuk kepemimpinan diri) begitu diasah. Bila dapat dikelola dengan baik akan meningkatkan solidaritas, kekeluargaan dan kesetiakawanan.
Persistent
Kenapa kita rela bersusah payah setengah mati mendaki gunung?? Jawabnya karena kita punya sesuatu yang telah jelas ingin kita raih yaitu puncak. Ketekunan… berbanding lurus dengan keyakinan akan tujuan kita…maka suka ataupun duka akan dijalani. Bahkan pada tingkatan tertentu…kita bisa mengasosiasikan rasa lelah sebagai kepuasan dalam sebuah perjuangan.
Superman and Superteam
Banyak kalanya mencapai tujuan memerlukan peran dari orang lain. Untuk itu diperlukan kerjasama tim yang tangguh. Tetapi tidak mungkin mencapai “superteam” jika individu didalamnya tidak punya kapasitas yang memadai.
Vertical Limit
Seringkali “cuaca” tidak selalu mendukung. Ada batasan-batasan tertentu yang tidak dapat kita paksakan. Untuk itu diperlukan suatu keputusan yang beresiko apakah kita akan melanjutkan perjalanan atau “mundur” sejenak menunggu situasi menjadi kondusif, atau bahkan mundur selamanya dan mengubah tujuan kita. Karena mencapai suatu destinasi bukanlah segalanya, tetapi perjuangan untuk menggapainyalah yang akan menjadi sesuatu yang lebih berharga…
(Bamsteke)
Perenungan atas setiap kejadian perlu dilakukan agar kita dapat memperoleh nilai berarti dari kejadian-kejadian tersebut. Sepenggal lirik lagu Mahameru (Dewa 19) di atas mengingatkan kita akan kenangan indah dalam suatu pendakian. Tidak hanya kenangan…banyak sekali manfaat dan pelajaran yang kita dapatkan, yang sangat layak diinterpretasikan dalam kehidupan pribadi dan bersosial.
Tulisan ini saya dedikasikan untuk seluruh anggota pecinta Alam ARGA ZARKA,…tentang pelajaran hidup dari sebuah pendakian…
Goal Setting
Tidak banyak yang memahami pentingnya goal setting. Menentukan gunung yang akan kita daki merupakan pelajaran pertama dan utama dalam sebuah pendakian. Seperti juga dalam kehidupan…orang yang hidup tanpa tujuan atau cita-cita hanya akan menjalani hidup ‘ala kadarnya. Berbeda ketika kita memiliki tujuan dan cita-cita yang jelas, maka kita akan mempersiapkan segala daya dan upaya (harta, pikiran, dan tenaga) secara tepat sasaran guna meraih cita-cita tersebut. Sungguh disayangkan…bahkan sampai memilih jurusan dan fakultas-pun ada yang hanya ngikut teman atau karena keinginan orang tua, atau rela hanya masuk pilihan 2 atau 3 asal masuk universitas favorit. Sudah banyak cerita tentang orang yang menjalani hidup tanpa tujuan yang jelas…hingga pada suatu titik yang sudah cukup terlambat, dia tersadar telah tersesat.
“Loh..kok kita ada di puncak Gede??…seharusnya kan kita ke Pangrango…!??” …bayangkan waktu dan tenaga yang telah terbuang sia-sia hanya untuk mencapai tempat yang salah.
Demikian halnya dalam materi falsafah Pendidikan Dasar, Rekan rekan Panitia memberikan sesi berpikir mengenai goal apa bagi teman-teman calon Anggota (semoga masih tersimpan dan dapat di revisi)…tentang apa yang dapat teman-teman berikan ke AZKA, yang pada akhirnya secara otomatis berbanding lurus dengan apa yang akan teman-teman terima.
Sekarang silahkan teman-teman bertanya pada diri masing-masing…maukah kita hidup tanpa ada sesuatu berharga yang kita berikan atau tinggalkan ke AZKA atau orang lain? Kemudian kita akan pergi dan tidak ada yang bisa orang kenang dari kita??
Karena kepuasan tertinggi sepatutnya dilandasi oleh aktualisasi diri (teori Maslow), yang termasuk di dalamnya adalah kontribusi.
Saran saya…kaji ulang tujuan hidup teman-teman. Bila perlu seting ulang sebelum banyak hal yang menjadi terlalu terlambat dan sia-sia. Bila terlanjur…mulailah mencintai pilihan-pilihan tersebut. Karena hidup adalah pilihan…maka jangan asal pilih, namun pilihlah yang terbaik bagi kita dan orang lain.
Managerial
Tampaknya sudah jelas tentang manajemen perjalanan, silahkan bertanya pada instruktur yang lain.
Leadership
Jika ingin mengetahui sifat asli atau kapasitas seseorang, lihatlah ketika sedang under presure. Keadaan tersebut dalam pendakian seperti kelelahan fisik dan mental, maka sifat dasar seseorang akan muncul di sana seperti temperamental, ingin mendominasi, tidak mau mengalah, dan sebagainya yang seringkali menimbulkan friksi. Disinilah pelajaran berharga tentang hubungan interpersonal dan kepemimpinan (termasuk kepemimpinan diri) begitu diasah. Bila dapat dikelola dengan baik akan meningkatkan solidaritas, kekeluargaan dan kesetiakawanan.
Persistent
Kenapa kita rela bersusah payah setengah mati mendaki gunung?? Jawabnya karena kita punya sesuatu yang telah jelas ingin kita raih yaitu puncak. Ketekunan… berbanding lurus dengan keyakinan akan tujuan kita…maka suka ataupun duka akan dijalani. Bahkan pada tingkatan tertentu…kita bisa mengasosiasikan rasa lelah sebagai kepuasan dalam sebuah perjuangan.
Superman and Superteam
Banyak kalanya mencapai tujuan memerlukan peran dari orang lain. Untuk itu diperlukan kerjasama tim yang tangguh. Tetapi tidak mungkin mencapai “superteam” jika individu didalamnya tidak punya kapasitas yang memadai.
Vertical Limit
Seringkali “cuaca” tidak selalu mendukung. Ada batasan-batasan tertentu yang tidak dapat kita paksakan. Untuk itu diperlukan suatu keputusan yang beresiko apakah kita akan melanjutkan perjalanan atau “mundur” sejenak menunggu situasi menjadi kondusif, atau bahkan mundur selamanya dan mengubah tujuan kita. Karena mencapai suatu destinasi bukanlah segalanya, tetapi perjuangan untuk menggapainyalah yang akan menjadi sesuatu yang lebih berharga…
(Bamsteke)
Komentar
Posting Komentar